Kami pernah duduk di bangku yang sama,
berseragam putih merah,
menyimpan tawa polos
tanpa tahu ke mana masa depan akan membawa arah.
Waktu lalu berjalan diam-diam,
mengantar kami pada jalan yang berbeda,
memisahkan langkah selama delapan belas tahun,
tanpa janji, tanpa kabar,
hanya kenangan kecil
yang tertidur rapi di sudut ingatan.
Hingga suatu malam,
di bawah langit yang luas dan sunyi,
langkah-langkah lama kembali saling mengenali.
Barangkali bukan kebetulan,
melainkan rindu yang terlalu lama disimpan
akhirnya menemukan jalannya pulang.
Kami bertemu bukan lagi sebagai anak-anak,
melainkan dua jiwa yang telah ditempa
oleh cerita, oleh luka, oleh doa-doa
yang diam-diam dipanjatkan pada waktu.
Dari pertemuan yang sederhana,
tumbuh rasa yang kian berakar,
keyakinan yang perlahan menguat
bahwa perpisahan panjang itu
hanyalah cara Tuhan
menjaga kami,
hingga tiba pada waktu yang paling layak
untuk kembali saling menggenggam.